UB Ajak Masyarakat Maknai Idul Adha sebagai Momentum Pengorbanan dan Keteguhan Iman

Kota Malang,- Universitas Brawijaya mengajak masyarakat memaknai Idul Adha bukan sekadar perayaan keagamaan, tetapi juga sebagai momentum belajar tentang pengorbanan, keikhlasan, dan keteguhan iman melalui keteladanan Nabi Ibrahim AS.
Ajakan tersebut disampaikan Ketua Pusat Pembinaan Agama (PPA) UB, Dr. Khusnul Fathony dalam konten “Bonsai on Podcast” yang ditayangkan pada Jumat (22/5/2026).
Menurutnya, kehidupan sejatinya tidak lepas dari pengorbanan. Setiap tantangan yang dihadapi dan upaya untuk menyelesaikannya merupakan bagian dari bentuk pengorbanan manusia.
“Sejatinya hidup itu adalah tentang berqurban atau berkorban. Menghadapi tantangan dan berusaha menyelesaikannya juga merupakan bentuk pengorbanan. Qurban menjadi ukuran tentang mana yang lebih dicintai,” ujarnya.
Melalui podcast tersebut, sivitas akademika UB dan masyarakat umum juga diajak mengikuti rangkaian kegiatan Idul Adha di kampus, mulai dari salat Idul Adha hingga penyembelihan hewan qurban pada peringatan 10 Dzulhijjah yang jatuh pada Rabu (27/05/2026).
Rangkaian kegiatan Idul Adha UB akan diawali dengan salat Idul Adha pada pukul 06.00 WIB di Lapangan Rektorat UB dan terbuka untuk umum. Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan seni religi, bazar wisata kuliner oleh PT Brawijaya Multi Usaha (BMU), hingga penyembelihan hewan qurban.
Dr. Khusnul menjelaskan, hingga podcast tersebut ditayangkan, UB dijadwalkan menyembelih 20 ekor sapi dan 15 ekor kambing. Seluruh hewan qurban dipastikan memenuhi aspek higienitas dan kesehatan oleh Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya.
Sementara itu, pendistribusian daging qurban telah dipetakan kepada kaum dhuafa, masyarakat sekitar kampus, dan sivitas akademika yang berhak menerima. Hingga saat ini, sekitar 2.500 kupon pembagian daging qurban telah dibagikan.
Ia menegaskan, pelaksanaan salat Idul Adha hingga penyembelihan dan pembagian hewan qurban merupakan bentuk nyata UB dalam meneladani kisah Nabi Ibrahim AS sebagai uswatun hasanah atau suri teladan.
Selain keteguhan iman, Dr. Khusnul juga menyoroti sikap kritis Nabi Ibrahim dalam meyakini keberadaan Tuhan di tengah masyarakat penyembah berhala. Keteguhan tersebut menjadi salah satu nilai penting yang relevan diterapkan dalam kehidupan saat ini.
Tak hanya itu, komitmen Nabi Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah SWT, termasuk ketika diperintahkan menyembelih putranya Nabi Ismail, disebut sebagai simbol ketundukan dan keikhlasan yang tinggi kepada Allah SWT.
“Sebelum melaksanakan perintah tersebut, Nabi Ibrahim terlebih dahulu berdialog dengan putranya. Sikap ini mencerminkan pentingnya musyawarah dan komunikasi dalam kehidupan sosial,” jelasnya.
Ia menambahkan, kisah Nabi Ibrahim menjadi ujian yang diabadikan Allah SWT sebagai pelajaran bagi generasi mendatang.
“Apa yang dilakukan Nabi Ibrahim adalah ujian dari Allah SWT. Kemudian, ujian ini diabadikan untuk generasi yang akan datang. Nama Nabi Ibrahim pun tercatat sebagai nama baik,” pungkasnya. (Red)
