PJ Ketua MWC NU Blimbing Tegaskan Halalbihalal sebagai Tradisi NU yang Menyatukan Umat dan Pemerintah

Kota Malang — Wali Kota Malang menghadiri kegiatan Halalbihalal Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Blimbing yang digelar di halaman Pondok Pesantren I’anatut Tholibin, Jalan Simpang Panji Suroso I RT 08/RW 07. Acara ini diikuti oleh seluruh pengurus dan warga Nahdliyin sebagai bagian dari tradisi tahunan pasca-Idulfitri.
Penjabat (Pj) Ketua Tanfidziyah MWC NU Blimbing, Gus Mumtaz Danial A., S.T., menyampaikan bahwa halalbihalal merupakan agenda rutin yang terus dijaga sebagai sarana mempererat silaturahmi.
“Alhamdulillah, hari ini kita dapat menuntaskan kegiatan rutin tahunan halalbihalal MWC NU Blimbing yang sudah memiliki format tetap. Jika sebelumnya lokasi berpindah-pindah, kali ini bertepatan dengan kehadiran Wali Kota sekaligus momentum HUT ke-112 Kota Malang, sehingga diselenggarakan di tempat ini,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa tradisi halalbihalal merupakan bagian dari “wakaf sosial” Nahdlatul Ulama yang diwariskan oleh para ulama pendiri.
“Seperti yang saya sampaikan, ini adalah wakaf NU. Hadratus Syekh KH Wahab Hasbullah telah mewariskan forum silaturahmi halalbihalal yang kini menjadi tradisi nasional. Sudah semestinya kita sebagai warga NU melestarikannya,” tambahnya.
Gus Dani, sapaan akrabnya, juga menekankan pentingnya penguatan kolaborasi internal organisasi, termasuk kesiapan perangkat seperti JUSNU (Juru Sembelih NU) yang dimiliki MWC NU Blimbing.
“Ini bagian dari komitmen kita dalam menjaga standar kehalalan sesuai dengan manhaj Nahdlatul Ulama,” tegasnya.
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren I’anatut Tholibin sekaligus Rois Syuriah MWC NU Blimbing, Drs. KH Saifudin Zuhri, menegaskan bahwa tradisi halalbihalal memiliki nilai historis dan religius dalam memperkuat persatuan.
“Tradisi ini perlu dilestarikan karena berakar dari sunnah Nabi dan memberikan manfaat besar dalam mempererat ukhuwah, baik ukhuwah basyariyah, wathaniyah, maupun ukhuwah antar sesama muslim,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tradisi halalbihalal berawal dari gagasan KH Wahab Hasbullah pada masa awal kemerdekaan sebagai solusi menjaga persatuan bangsa.
“Kala itu, halalbihalal menjadi sarana mempererat persatuan tokoh bangsa dari Sabang sampai Merauke, dengan saling memaafkan dan meneguhkan cinta tanah air. Nilai tersebut harus terus dijaga,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, KH Saifudin Zuhri turut menyampaikan pentingnya sinergi antara ulama dan umara dalam membangun masyarakat.
“Jika hubungan ulama dan umara baik, maka semuanya akan baik. Sebaliknya, jika tidak harmonis, dampaknya juga akan luas. Karena itu, kemitraan antara pemerintah dan masyarakat harus terus diperkuat,” ujarnya.
Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh keakraban, menjadi momentum strategis dalam mempererat hubungan antara ulama, pemerintah, dan masyarakat di wilayah Blimbing, Kota Malang.(Rmn)
