Wamenag: Pesantren Tetap Menjadi Kekuatan Strategis dalam Membangun Indonesia

Kabupaten Malang – Sarasehan Nasional Majelis Pesantren Dakwah Indonesia (MPDI) Tahun 2026 resmi ditutup oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Dr. (H.C.) K.H. Romo H. R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum., di Pondok Pesantren Daarul Ukhuwwah, Asrikaton, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Minggu (28/6/2026). Dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri Agama menegaskan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan perjuangan yang memiliki peran strategis dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Menurut Romo H. R. Muhammad Syafi’i, sejak masa perjuangan kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, hingga mengisi pembangunan nasional saat ini, pesantren selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah bangsa Indonesia.
“Pesantren adalah lembaga pendidikan perjuangan yang sejak dahulu satu napas dengan perjalanan bangsa Indonesia, mulai dari merebut kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, hingga mengisi kemerdekaan saat ini,” ujarnya.
Ia menyebutkan, keberadaan lebih dari 40 ribu pesantren dengan sekitar 10 juta santri aktif menjadi bukti bahwa pesantren masih menjadi kekuatan besar bangsa yang kontribusinya tidak dapat dipandang sebelah mata. Bahkan, banyak alumni pesantren saat ini telah menempati berbagai posisi strategis di berbagai bidang kehidupan nasional.
“Kalau kita tidak bertanya, kita tidak tahu bahwa alumni pesantren hari ini telah menempati berbagai posisi strategis di Indonesia,” katanya.

Romo H. R. Muhammad Syafi’i juga menyoroti kemandirian pesantren yang selama ini tetap konsisten menjalankan perannya meskipun belum sepenuhnya mendapatkan dukungan maksimal dari pemerintah. Menurutnya, pesantren tidak pernah bergeser dari komitmennya untuk bersama-sama membangun Indonesia.
Ia menegaskan bahwa sesuai amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren, lembaga pesantren memiliki tiga fungsi utama, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Ketiga fungsi tersebut menjadikan pesantren tetap relevan dan diminati masyarakat hingga saat ini.
“Minat masyarakat terhadap pesantren masih sangat besar karena alumni pesantren terbukti memiliki pemahaman keagamaan, keilmuan, serta wawasan kebangsaan yang kuat,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Wakil Menteri Agama berharap terbitnya Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2025 tentang pembentukan Direktorat Jenderal dapat semakin memperkuat perhatian dan pemberdayaan terhadap pesantren di Indonesia.
Ia juga menilai bahwa forum-forum ilmiah dan silaturahmi antarpesantren, seperti Sarasehan Nasional MPDI, merupakan langkah penting untuk memperkuat kontribusi pesantren dalam pembangunan bangsa dan negara.
“Harapan kita, pesantren tetap berdiri kokoh menghadapi berbagai rintangan dan cobaan, serta tidak pernah bergeser dari komitmennya bersama pemerintah dalam membangun Indonesia,” tegasnya.
Sementara itu, Sekretaris Umum Majelis Pesantren Dakwah Indonesia (MPDI), KH. Abdurrahman A.H., M.Pd., menyatakan bahwa pesantren akan terus mendukung berbagai program unggulan pemerintah yang pada prinsipnya telah lama dijalankan di lingkungan pesantren.
Menurutnya, program penguatan koperasi yang saat ini menjadi perhatian pemerintah bukan merupakan hal baru bagi pesantren. Bahkan, banyak pesantren telah mengembangkan koperasi jauh sebelum program tersebut menjadi kebijakan nasional.
“Koperasi bukanlah sesuatu yang baru bagi pesantren, bahkan kami telah membangunnya jauh sebelum program-program unggulan pemerintah saat ini diluncurkan,” ujarnya.
Ia menambahkan, program-program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penguatan koperasi sangat sejalan dengan fungsi utama pesantren, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
“Kami menyambut dengan sangat baik hadirnya program-program pemerintah seperti MBG dan penguatan koperasi, karena hal itu semakin memperkuat peran strategis pesantren,” katanya.
Menurut KH. Abdurrahman, kolaborasi yang kuat antara pesantren, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan akan semakin meningkatkan kontribusi pesantren bagi kemajuan bangsa dan umat.
“Kami optimistis, dengan dukungan dan sinergi yang baik, pesantren akan semakin besar perannya dalam pembangunan Indonesia,” pungkasnya.
Penutupan Sarasehan Nasional MPDI Tahun 2026 ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dan pesantren dalam mewujudkan pembangunan nasional yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan, kebangsa
an, dan pemberdayaan masyarakat.(Rmn)
